Appendikcitis
Appendikcitis
1. Anatomi Dan Fisiologi
1. Anatomi Dan Fisiologi
A. Anatomi
Appendiks ialah suatu organ yg
memiliki bentuk tabung dengan panjang sekitar 10 cm & berpangkal pada
sebuah sekum. appendiks pertama kali tampak terlihat saat perkembangan
embriologi pada minggu ke 8 yakni bagian ujung dari protuberans sekum. Pada
saat proses antenatal & postnatal, pertumbuhan dari sekum yg berlebih dapat
menjadi appendiks yg dapat berpindah dari medial menuju katup ileocaecal. Pada
bayi appendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkal & menyempit kearah
ujung. Kondisi ini menjadi penyebab rendahnya insidens Apendisitis pada usia
tersebut. Apendisitis memiliki lumen sempit di bagian proksimal & melebar
pada bagian distal. Pada Apendisitis terdapat tiga tanea coli yg menyatu
dipersambungan sekum & berguna untuk mendeteksi/mengetahui posisi
appendiks. Gejala klinik Apendisitis ditentukan oleh letak dari appendiks.
Posisi appendiks ialah retrocaecal ( di belakang sekum ) 65,28%, pelvic (
panggul ) 31,01 %, subcaecal ( di bawah sekum ) 2,26 %, preileal ( di depan
usus halus ) 1 %, & postileal ( di belakang usus halusv) 0,4 %, seperti
yang dapat terlihat pada gambar dibawah ini.

B. Fisiologi
Appendiks
menghasilkan lendir sekitar 1-2 ml per hari. Lendir tersebut secara normal
dicurahkan ke dalam lumen & kemudian mengalir kedalam sekum. gangguan
aliran lendir di muara appendiks tampaknya berperan pada proses patogenesis
Apendisitis. Imunoglobulin sekretoar yg dihasilkan oleh Gut Associated Lymphoid
Tissue ( GALT ) yg terdapat pada sepanjang saluran cerna termasuk appendiks
adalah Imunoglobulin A ( Ig-A ). Imunoglobulin ini sangat efektif sebagai
pelindung terhadap infeksi yakni mengontrol proliferasi bakteri, netralisasi
virus, serta mencegah terjadinya penetrasi enterotoksin & antigen
intestinal lainnya. Namun, pengangkatan appendiks tidak mempengaruhi pada
sistem imun tubuh disebabkan jumlah jaringan sedikit sekali apabila
dibandingkan dengan jumlah di saluran cerna & seluruh tubuh.

2.
Definisi
Apendisitis adalah kasus gawat
bedah abdomen yang paling sering terjadi.Apendisitis merupakan peradangan pada
apendiks vermivormis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering
terjadi (Andra Safery Wijaya, yessie Marisa Putri, 2013).
Apendisitis adalah kondisi dimana infeksi dimana terjadi
infeksi di umbai cacing. Dalam kasus ringan dapat sembuh tanpa perawatan,
tetapi banyak kasus memerlukan laparatomi dengan menyingkirkan umbai cacing
yang terinfeksi.Bila tidak dirawat, angka kematian cukup tinggi karena
peritonitis dan shock ketika umbai cacing yang terinfeksi hancur (Anonim, 2007
dalamSugengn Jotowiyono dan Weni Kristinasari, 2010).
Apendisitis merupakan inflamasi di
apendiks yang dapt terjadi tanpa penyebab yang jelas, setelah obstruksi
apendiks oleh feses atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahya
(Corwin, 2009).
Apendisitis adalah peradangan dari
apendiks vermivormis, dan merupakan penyebab abdomen akut yang paling sering.
Penyakit ini dapat mengenai semua umur baik laki-laki maupun perempuan, tetapi
lebih sering menyerang laki-laki berusia antara 10 sampai 30 tahun (Mansjoer,
Arief,dkk, 2007).
3.
Etiologi
Penyebab
penyakit apendisitis secara pasti belum diketahui. Tetapi, terjadinya
apendisitis ini umumnya karena bakteri. Selain itu, terdapat banyak faktor
pencetus terjadinya penyakit ini diantaranya sumbatan lumen apendiks,
hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks dan cacing
askaris yang dapat menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat
menimbulkan apendisitis adalah erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E.
histolytica. Penelitian epidemiologi menunjukkan peran kebiasaan makan
makanan rendah serat dan
pengaruh konstipasi terhadap timbulnya apendisitis juga merupakan
faktor pencetus terjadinya penyakit ini. Konstipasi akan menaikkan
tekanan intrasekal yang berakibat timbulnya sumbatan fungsional apendiks
dan meningkatnya pertumbuhan kuman flora kolon biasa. Semuanya ini mempermudah
timbulnya apendisitis akut (Sjamsuhidayat, 2004).
Apendisitis belum ada penyebab yang
pasti atau spesifik tetapi ada factor prediposisi yaitu:
1. Menurut Nuzulul, tahun 2009 Factor
yang tersering adalah obstruksi lumen. Pada umumnya obstruksi ini terjadi
karena:
a. Hiperplasia dari folikel limfoid, ini
merupakan penyebab terbanyak.
b. Adanya faekolit dalam lumen appendiks
c. Adanya benda asing seperti
biji-bijian
d. Striktura lumen karena fibrosa akibat
peradangan sebelumnya.
2.
Infeksi kuman dari colon yang paling sering adalah E. Coli dan Streptococcus
3.
Laki-laki lebih banyak dari wanita. Yang terbanyak pada umur 15-30 tahun
(remaja dewasa). Ini disebabkan oleh karena peningkatan jaringan limpoid pada
masa tersebut.
4. Tergantung pada bentuk apendiks:
a. Appendik yang terlalu panjang
b. Massa appendiks yang pendek
c. Penonjolan jaringan limpoid dalam lumen
appendiks
d. Kelainan katup di pangkal appendiks
Appendiksitis akut local yang ditandai oleh
adanya nyeri epigastrium, faktornya diantaranya:
1.
Ulserasi pada mukosa.
2.
Obstruksi
pada kolon oleh Fekalit (feses yang mengeras)
3.
Pemberian barium
4.
Berbagai
macam penyakit cacing
5.
Tumor
6.
Striktur
karena Fibrosis pada dinding usus
Namun ada beberapa faktor yang mempermudah terjadinya
radang apendiks, diantaranya :
a.
Faktor sumbatan
Faktor
obstruksi merupakan faktor terpenting terjadinya apendisitis (90%) yang diikuti
oleh infeksi. Sekitar 60% obstruksi disebabkan oleh hyperplasia jaringan
lymphoid sub mukosa, 35% karena stasis fekal, 4% karena benda asing dan sebab
lainnya 1% diantaranya sumbatan oleh parasit dan cacing. Obsrtruksi yang
disebabkan oleh fekalith dapat ditemui pada bermacam-macam apendisitis akut
diantaranya ; fekalith ditemukan 40% pada kasus apendisitis kasus sederhana,
65% pada kasus apendisitis akut ganggrenosa tanpa ruptur dan 90% pada kasus
apendisitis akut dengan rupture.
b.
Faktor Bakteri
Infeksi
enterogen merupakan faktor pathogenesis primer pada apendisitis akut. Adanya
fekolith dalam lumen apendiks yang telah terinfeksi memperburuk dan memperberat
infeksi, karena terjadi peningkatan stagnasi feses dalam lumen apendiks, pada
kultur didapatkan terbanyak ditemukan adalah kombinasi antara Bacteriodes
fragililis dan E.coli, lalu Splanchicus, lacto-bacilus, Pseudomonas, Bacteriodes
splanicus. Sedangkan kuman yang menyebabkan perforasi adalah kuman anaerob
sebesar 96% dan aerob<10%
c.
Kecenderungan familiar
Hal ini
dihubungkan dengan terdapatnya malformasi yang herediter dari organ, apendiks
yang terlalu panjang, vaskularisasi yang tidak baik dan letaknya yang mudah
terjadi apendisitis. Hal ini juga dihubungkan dengan kebiasaan makanan dalam
keluarga terutama dengan diet rendah serat dapat memudahkan terjadinya fekolith
dan mengakibatkan obstruksi lumen.
d.
Faktor ras dan diet
Faktor ras berhubungan dengan kebiasaan dan pola makanan sehari-hari.
Bangsa kulit putih yang dulunya pola makan rendah serat mempunyai resiko lebih
tinggi dari Negara yang pola makannya banyak serat. Namun saat sekarang,
kejadiannya terbalik. Bangsa kulit putih telah merubah pola makan mereka ke
pola makan tinggi serat. Justru Negara berkembang yang dulunya memiliki tinggi
serat kini beralih ke pola makan rendah serat, memiliki resiko apendisitis yang
lebih tinggi.
e.
Faktor infeksi saluran pernapasan
Setelah
mendapat penyakit saluran pernapasan akut terutama epidemi influenza dan
pneumonitis, jumlah kasus apendisitis ini meningkat.
4.
Klasifikasi
.
1. Apendisitis akut
Apendisitis akut adalah : radang
pada jaringan apendiks. Apendisitis akut pada dasarnya adalah obstruksi lumen
yang selanjutnya akan diikuti oleh proses infeksi dari apendiks. Penyebab
obstruksi dapat berupa :
a. Hiperplasi
limfonodi sub mukosa dinding apendiks.
b. Fekalit
c. Benda asing
d. Tumor.
Adanya obstruksi mengakibatkan cairan mukosa yang
diproduksi tidak dapat keluar dari apendiks, hal ini semakin meningkatkan
tekanan intra luminer sehingga menyebabkan tekanan intra mukosa juga semakin
tinggi. Tekanan yang tinggi akan menyebabkan infiltrasi kuman ke dinding
apendiks sehingga terjadi peradangan supuratif yang menghasilkan pus / nanah
pada dinding apendiks.
Selain obstruksi, apendisitis juga dapat disebabkan
oleh penyebaran infeksi dari organ lain yang kemudian menyebar secara hematogen
ke apendiks.
2.2.
2. Apendisitis
Purulenta (Supurative Appendicitis)
Tekanan dalam lumen yang terus
bertambah disertai edema menyebabkan terbendungnya aliran vena pada dinding
appendiks dan menimbulkan trombosis. Keadaan ini memperberat iskemia dan edema
pada apendiks. Mikroorganisme yang ada di usus besar berinvasi ke dalam dinding
appendiks menimbulkan infeksi serosa sehingga serosa menjadi suram karena
dilapisi eksudat dan fibrin. Pada appendiks dan mesoappendiks terjadi edema,
hiperemia, dan di dalam lumen terdapat eksudat fibrinopurulen. Ditandai dengan
rangsangan peritoneum lokal seperti nyeri tekan, nyeri lepas di titik Mc
Burney, defans muskuler, dan nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri dan defans
muskuler dapat terjadi pada seluruh perut disertai dengan tanda-tanda
peritonitis umum.
333.
3. Apendisitis kronik
Diagnosis apendisitis kronik baru
dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat : riwayat nyeri perut kanan bawah
lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks secara makroskopikdan
mikroskopik, dan keluhan menghilang satelah apendektomi.
Kriteria mikroskopik apendiksitis kronik adalah
fibrosis menyeluruh dinding apendiks, sumbatan parsial atau total lumen
apendiks, adanya jaringan parut dan ulkus lama dimukosa, dan infiltrasi sel
inflamasi kronik. Insidens apendisitis kronik antara 1-5 persen.
4.
4.
Apendissitis rekurens
Diagnosis rekuren baru dapat
dipikirkan jika ada riwayat serangan nyeri berulang di perut kanan bawah yang
mendorong dilakukan apeomi dan hasil patologi menunjukan peradangan akut.
Kelainan ini terjadi bila serangn apendisitis akut pertama kali sembuh spontan.
Namun, apendisitis tidak perna kembali ke bentuk aslinya karena terjadi
fribosis dan jaringan parut. Resiko untuk terjadinya serangn lagi sekitar 50
persen. Insidens apendisitis rekurens biasanya dilakukan apendektomi yang
diperiksa secara patologik.
Pada apendiktitis rekurensi biasanya dilakukan
apendektomi karena sering penderita datang dalam serangan akut.
5.
5. Mukokel
Apendiks
Mukokel apendiks adalah dilatasi
kistik dari apendiks yang berisi musin akibat adanya obstruksi kronik pangkal
apendiks, yang biasanya berupa jaringan fibrosa. Jika isi lumen steril, musin
akan tertimbun tanpa infeksi. Walaupun jarang,mukokel dapat disebabkan oleh
suatu kistadenoma yang dicurigai bisa menjadi ganas.
Penderita sering datang dengan
eluhan ringan berupa rasa tidak enak di perut kanan bawah. Kadang teraba massa
memanjang di regio iliaka kanan. Suatu saat bila terjadi infeksi, akan timbul
tanda apendisitis akut. Pengobatannya adalah apendiktomi.
6.
6. Tumor
Apendiks
Adenokarsinoma apendiks
Penyakit ini jarang ditemukan, biasa ditemukan
kebetulan sewaktu apendektomi atas indikasi apendisitis akut. Karena bisa
metastasis ke limfonodi regional, dianjurkan hemikolektomi kanan yang
akan memberi harapan hidup yang jauh lebih baik dibanding hanya apendektomi.
7.
7. Karsinoid
Apendiks
Ini merupakan tumor sel argentafin
apendiks. Kelainan ini jarang didiagnosis prabedah,tetapi ditemukan secara
kebetulan pada pemeriksaan patologi atas spesimen apendiks dengan diagnosis
prabedah apendisitis akut. Sindrom karsinoid berupa rangsangan kemerahan
(flushing) pada muka, sesak napas karena spasme bronkus, dan diare ynag hanya
ditemukan pada sekitar 6% kasus tumor karsinoid perut. Sel tumor memproduksi
serotonin yang menyebabkan gejala tersebut di atas.
Meskipun diragukan sebagai keganasan, karsinoid
ternyata bisa memberikan residif dan adanya metastasis sehingga diperlukan
opersai radikal. Bila spesimen patologik apendiks menunjukkan karsinoid dan
pangkal tidak bebas tumor, dilakukan operasi ulang reseksi ileosekal atau
hemikolektomi kanan.
5.Pathway
6. Patofisiologi
Penyebab utama appendiksitis adalah obstuksi penyumbatan yang dapat
disebabkan oleh hiperplasia dari polikel lympoid merupakan penyebab terbanyak
adanya fekalit dalam lumen appendik.Adanya benda asing seperti : cacing,striktur
karenan fibrosis akibat adanya peradangan sebelumnya.Sebab lain misalnya :
keganasan (Karsinoma Karsinoid). Obsrtuksi apendiks itu
menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung, makin lama mukus yang
terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks oedem serta merangsang
tunika serosa dan peritonium viseral. Oleh karena itu persarafan appendiks sama
dengan usus yaitu torakal X maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit
disekitar umblikus.
Mukus yang terkumpul itu lalu terinfeksi oleh bakteri menjadi nanah,
kemudian timbul gangguan aliran vena, sedangkan arteri belum terganggu,
peradangan yang timbul meluas dan mengenai peritomium parietal setempat,
sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan
appendisitis supuratif akut.
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kerena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, maka dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2000).
Bila kemudian aliran arteri terganggu akan terjadi infark dinding apendiks yang diikuti dengan gangren. Stadium ini disebut dengan apendisitis gangrenosa. Bila dinding yang telah rapuh itu pecah, akan terjadi apendisitis perforasi. Bila semua proses diatas berjalan lambat, omentum dan usus yang berdekatan akan bergerak ke arah apendiks hingga timbul suatu massa lokal yang disebut infiltrate apendikularis. Peradangan pada apendiks tersebut dapat menjadi abses atau menghilang. Pada anak-anak, kerena omentum lebih pendek dan apendiks lebih panjang, maka dinding apendiks lebih tipis. Keadaan tersebut ditambah dengan daya tahan tubuh yang masih kurang sehingga memudahkan terjadinya perforasi. Sedangkan pada orang tua, perforasi mudah terjadi karena telah ada gangguan pembuluh darah (Mansjoer, 2000).
7. Manifestasi Klinik(Tanda dan Gejala)
Menurut
Arief Mansjoer (2002), keluhan apendisitis biasanya bermula dari nyeri di
daerah umbilikus atau periumbilikus yang berhubungan dengan muntah. Dalam 2 –
12 jam nyeri akan beralih ke kuadran kanan bawah yang akan menetap dan
diperberat bila berjalan atau batuk. Terdapat juga keluhan anoreksia, malaise
dan demam yang tak terlalu tinggi. Biasanya juga terdapat konstipasi tetapi
kadang-kadang terjadi diare, mual dan muntah.
Pada
permulaan timbulnya penyakit belum ada keluhan abdomen yang menetap namun dalam
beberapa jam nyeri abdomen kanan bawah akan semakin progresif dan dengan
pemeriksaan seksama akan dapat ditunjukkan satu titik dengan nyeri maksimal
perkusi ringan pada kuadran kanan bawah dapat membantu menentukan lokasi nyeri.
Menurut Suzanne C Smeltzer dan Brenda G Bare (2002), apendisitis
akut sering tampil dengan gejala yang khas yang didasari oleh radang mendadak umbai
cacing yang memberikan tanda setempat. Nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya
disertai oleh demam ringan, mual, muntah dan hilangnya nafsu makan. Pada
apendiks yang terinflamasi, nyeri tekan dapat dirasakan pada kuadran
kanan bawah pada titik Mc.Burney yang berada antara umbilikus dan spinalis
iliaka superior anterior. Derajat nyeri tekan, spasme otot dan apakah terdapat
konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi
apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri tekan terasa di
daerah lumbal. Bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini dapat diketahui
hanya pada pemeriksaan rektal. Nyeri pada defekasi menunjukkan ujung
apendiks berada dekat rektum. Nyeri pada saat berkemih menunjukkan
bahwa ujung apendiks dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekakuan
pada bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi. Tanda rovsing dapat timbul
dengan melakukan palpasi kuadran bawah kiri yang secara paradoksial
menyebabkan nyeri yang terasa dikuadran kanan bawah. Apabila apendiks telah
ruptur, nyeri menjadi menyebar. Distensi abdomen terjadi akibat ileus paralitik
dan kondisi pasien memburuk. Pada pasien lansia, tanda dan gejala
apendisitis dapat sangat bervariasi. Tanda-tanda tersebut dapat sangat meragukan,
menunjukkan obstruksi usus atau proses penyakit lainnya. Pasien mungkin tidak
mengalami gejala sampai ia mengalami ruptur apendiks. Insidens perforasi pada
apendiks lebih tinggi pada lansia karena banyak dari pasien-pasien ini mencari
bantuan perawatan kesehatan tidak secepat pasien-pasien yang lebih muda.
Menurut Diane C. Baughman dan JiAnn C. Hackley (2000),
manifestasi klinis apendisitis adalah sebagai berikut:
1. Nyeri kuadran kanan bawah dan biasanya disertai dengan demam derajat
rendah, mual, dan seringkali muntah dan hilangnya nafsu makan.
2. Pada titik Mc Burney terdapat nyeri
tekan setempat karena tekanan dan sedikit kaku dari bagian bawah otot rektus
kanan
3. Nyeri alih mungkin saja ada; letak
apendiks mengakibatkan sejumlah nueri tekan, spasme otot, dan konstipasi serta
diare kambuhan
4. Tanda Rovsing (dapat diketahui
dengan mempalpasi kuadran kanan bawah , yang menyebabkan nyeri kuadran kiri
bawah)
5. Jika terjadi ruptur apendiks, maka
nyeri akan menjadi lebih menyebar; terjadi distensi abdomen akibat ileus paralitik
dan kondisi memburuk.
6. Nyeri lumbal,
bila appendiks melingkar di belakang sekum.
7. Nyeri defekasi, bila appendiks berada dekat rektal.
8. Nyeri kemih, jika ujung appendiks berada di dekat kandung
kemih atau ureter.
9. Pemeriksaan rektal positif jika ujung appendiks berada di ujung pelvis.
10. Pada pasien lansia tanda dan gejala appendiks sangat bervariasi. Pasien
mungkin tidak mengalami gejala sampai terjadi ruptur appendiks.
8.
Penatalaksanaan
Menurut Arief Mansjoer (2000), penatalaksanaan apendisitis adalah
sebagai berikut:
1. Tindakan
medis
a.
Observasi
terhadap diagnosa
Dalam 8 – 12 jam pertama setelah timbul gejala dan
tanda apendisitis, sering tidak terdiagnosa, dalam hal ini sangat penting
dilakukan observasi yang cermat. Penderita dibaringkan ditempat tidur dan tidak
diberi apapun melalui mulut. Bila diperlukan maka dapat diberikan cairan
aperviteral. Hindarkan pemberian narkotik jika memungkinkan, tetapi obat
sedatif seperti barbitural atau penenang tidak karena merupakan kontra
indikasi. Pemeriksaan abdomen dan rektum, sel darah putih dan hitung jenis di
ulangi secara periodik. Perlu dilakukan foto abdomen dan thorak posisi tegak
pada semua kasus apendisitis, diagnosa dapat jadi jelas dari tanda lokalisasi
kuadran kanan bawah dalam waktu 24 jam setelah timbul gejala.
b. Intubasi
Dimasukkan
pipa naso gastrik preoperatif jika terjadi peritonitis atau toksitas yang
menandakan bahwa ileus pasca operatif yang sangat menggangu. Pada penderita ini
dilakukan aspirasi kubah lambung jika diperlukan. Penderita dibawa kekamar
operasi dengan pipa tetap terpasang.
c.
Antibiotik
Pemberian
antibiotik preoperatif dianjurkan pada reaksi sistematik dengan toksitas yang
berat dan demam yang tinggi .
2. Terapi bedah
Pada
apendisitis tanpa komplikasi, apendiktomi dilakukan segera setelah terkontrol
ketidakseimbangan cairan dalam tubuh dan gangguan sistematik lainnya. Biasanya
hanya diperlukan sedikit persiapan. Pembedahan yang direncanakan secara dini
baik mempunyai praksi mortalitas 1 % secara primer angka morbiditas
dan mortalitas penyakit ini tampaknya disebabkan oleh komplikasi ganggren dan
perforasi yang terjadi akibat yang tertunda.
3. Terapi pasca operasi
Perlu
dilakukan obstruksi tanda-tanda vital untuk mengetahui terjadinya perdarahan
didalam, syok hipertermia, atau gangguan pernapasan angket sonde lambung
bila pasien telah sadar, sehingga aspirasi cairan lambung dapat dicegah.
Baringkan pasien dalam posisi fowler. Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam
tidak terjadi gangguan. Selama itu pasien dipuasakan. Bila tindakan operasi
lebih besar, misalnya pada perforasi atau peritonitis umum, puasa diteruskan
sampai fungsi usus kembali normal. Kemudian berikan minum mulai 15 ml/jam
selama 4-5 jam lalu naikkan menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya diberikan
makan saring, dan hari berikutnya diberikan makanan lunak. Satu hari pasca
operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak ditempat tidur selama 2 x 30 menit.
Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk diluar kamar. Hari ketujuh
jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang.
4. Penanggulangan konservatif
Penanggulangan
konservatif terutama diberikan pada penderita yang tidak mempunyai akses ke pelayanan
bedah berupa pemberian antibiotik. Pemberian antibiotik berguna untuk mencegah
infeksi. Pada penderita Apendisitis perforasi, sebelum operasi dilakukan
penggantian cairan dan elektrolit, serta pemberian antibiotik sistemik
5. Pencegahan Tersier
Tujuan utama
dari pencegahan tersier yaitu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih berat
seperti komplikasi intra-abdomen. Komplikasi utama adalah infeksi luka dan
abses intraperitonium. Bila diperkirakan terjadi perforasi maka abdomen dicuci
dengan garam fisiologis atau antibiotik. Pasca appendektomi diperlukan
perawatan intensif dan pemberian antibiotik dengan lama terapi disesuaikan
dengan besar infeksi intra-abdomen.
Terapi
farmakologi bagi pasien penderita apendisitis dapat dilakukan melalui hal, yaitu :
1.
Penggunaan
antibiotik
Jenis
antibiotika yang digunakan pasien apendisitis akut adalah sefalosporin generasi
III (sefotaksim dan seftriakson), sefalosporin generasi IV (sefpirom),
metronidazol, aminoglikosida (gentamisin), penisilin (ampisilin), dan
karbapenem (meropenem). Pada saat KRS antibiotika yang paling banyak digunakan
adalah siprofloksasin.
2. Analgetika
Jenis analgetika yang digunakan adalah ketorolak trometamin, metamizol Na, dan tramadol HCl. Dosis obat yang digunakan semuanya sesuai dengan pustaka dengan rute pemberian intravena dan per oral pada saat KRS
Jenis analgetika yang digunakan adalah ketorolak trometamin, metamizol Na, dan tramadol HCl. Dosis obat yang digunakan semuanya sesuai dengan pustaka dengan rute pemberian intravena dan per oral pada saat KRS
3.
Terapi
Cairan
Penggantian cairan dan elektrolit, mengontrol sepsis, antibiotik sistemik
adalah pengobatan pertama yang utama pada peritonitis difus termasuk akibat
apendisitis dengan perforasi. Cairan yang secara massive ke rongga peritonium
harus diganti segera dengan cairan intravena, jika terbukti terjadi toxix
sistemik, atau pasien tua atau kesehatan yang buruk harus dipasang pengukur
tekanan vena central. Balance cairan harus diperhatikan. Cairan atau berupa
ringer laktat harus di infus secara cepat untuk mengkoreksi hipovolemia dan
mengembalikan tekanan darah serta pengeluaran urin pada level yang baik. Darah
di berikan bila mengalami anemia dan atau dengan perdarahan secara bersamaan.
4. Antiulser,
misalnya senyawa xanthone. Anda bisa membuat ramuannya sendiri atau membeli
produk yang sudah jadi dipasaran seperti Jus Manggis Xamthone Plus
5. Antiemetika
Efektivitas obat pada kasus apendsitis akut ditunjukkan dengan penurunan leukosit, LED, dan intensitas nyeri serta tidak didapatkan infeksi luka operasi (ILO). Problem obat pada kasus apendisitis akut hanya ditemukan pada satu pasien yaitu reaksi alergi (hipersensitifitas) terhadap sefotaksim.
Efektivitas obat pada kasus apendsitis akut ditunjukkan dengan penurunan leukosit, LED, dan intensitas nyeri serta tidak didapatkan infeksi luka operasi (ILO). Problem obat pada kasus apendisitis akut hanya ditemukan pada satu pasien yaitu reaksi alergi (hipersensitifitas) terhadap sefotaksim.
6.
Pembedahan Operasi Apendisitis
Apendisitis
akut diobati dengan pembedahan, yaitu dengan mengangkat apendiks. Pembedahan
dapat dilakukan dengan cara konvensional yaitu irisan kecil di bagian perut
kanan bawah, atau dengan menggunakan laparoskopi, yang membutuhkan tiga atau
empat irisan kecil. Pada pembedahan, apendiks hampir selalu diangkat, bahkan
jika dijumpai ternyata apendiks dalam keadaan normal. Hal ini dilakukan agar
nyeri perut kanan bawah di masa akan datang tidak lagi ditujukan pada
apendisitis. Pemulihan setelah operasi apendiktomi konvensional biasanya
berlangsung beberapa minggu. Pasien biasanya diberikan obat pereda nyeri dan
diminta untuk membatasi aktifitas fisik. Sedangkan pemulihan setelah
apendiktomi dengan laparoskopi biasanya berlangsung lebih cepat, tetapi
membatasi aktifitas berat tetapi diperlukan, yaitu kurang lebih 4 sampai 6
minggu setelah pembedahan.
Sebagian
besar pasien yang sembuh dari apendisitis akan kembali normal seperti sedia
kali. Jarang sekali pembedahan apendisitis menyebabkan berbagai kelainan yang
menyebabkan pasien perlu merubah pola makan, latihan, atau gaya hidupnya.
Terapi
non farmakologi bagi pasien penderita apendisitis dapat dilakukan melalui hal, yaitu :
1.
Harus pandai dan selektif dalam memilih makanan sehat
Makanan
sehat akan sangat membantu penderita appendiksitis agar cepat sembuh, karena
jika makananya tidak sehat, akan membuat bekteri atau kuman yang berada didalam
usus buntu semakin berkembang, makanan sehat tidak perlu didapat dengan harga
mahal, Anda dapat mengonsumsi buah dan sayur sebagai menu hidangan sehat setiap
hari.
2.
Konsumsi Air Putih Sebanyak-banyaknya
Pada
penderita penyakit appendiksitis ini
pastinya akan merasakan kesakitan yakni rasa nyeri pada bagian kanan pusar,
untuk mengatasi rasa nyeri tersebut dapat berikan atau memperbanyak konsumsi
air putih. Usahakan minimal 2 liter setiap harinya untuk mengurangi rasa nyeri
tersebut.
3.
Mengatur Istirahat Cukup
Tubuh
pada dasarnya juga memerlukan istirahat, hal ini juga sangat penting bagi
penderita appendiksitis, karena jika tidak istirahat dengan cukup sistem imun
akan terganggu, sehingga menghambat penyembuhan appendiksitis, istirahat yang
baik adalah tidur, pasien dapat tidur minimal 8 jam setiap harinya, agar tubuh
selalu sehat dan tidak terserang penyakit lainya.
4.
Jangan Menunda Makan
Walaupun
makanan yang dikonsumsi pasien didalam appendiksitis diambil sarinya oleh para
cacing ataupun bakteri akan tetapi jangan lantas kita membatasi konsumsi makan,
karena hal tersebut justru akan memperparah penyakit appendiksitis pasien, maka
dari itu jangan sampai menunda-nunda makan.
5.
Menjaga Kebersihan
Makanan
yang hiegenis, akan sangat membantu proses penyembuhan penyakit usus buntu ini,
karena makanan yang kotor akan membuat bakteri ataupun kuman yang terdapat pada
usus semakin berkembang, maka dari itu pasien harus menjaga kebersihan makanan
agar selalu higenis, selain itu perhatikan juga kebersihan tangan yang akan pasien
gunakan untuk makan, karena kuman juga bisa datang dari tangan yang kotor.
9.
Pemerikaan
a.Pemeriksaan
Fisik
a)
Inspeksi
Pada apendisitis akut sering
ditemukan adanya abdominal swelling, sehingga pada pemeriksaan jenis ini
biasa ditemukan distensi perut.
b)
Palpasi
Pada daerah perut kanan bawah
apabila ditekan akan terasa nyeri. Dan bila tekanan dilepas juga akan terasa
nyeri. Nyeri tekan perut kanan bawah merupakan kunci diagnosis dari apendisitis.
Pada penekanan perut kiri bawah akan dirasakan nyeri pada perut kanan bawah.
Ini disebut tanda Rovsing (Rovsing Sign). Dan apabila tekanan di perut
kiri bawah dilepaskan juga akan terasa nyeri pada perut kanan bawah.Ini disebut
tanda Blumberg (Blumberg Sign).
c)
Pemeriksaan colok dubur
Pemeriksaan ini dilakukan pada
apendisitis, untuk menentukan letak apendiks, apabila letaknya sulit diketahui.
Jika saat dilakukan pemeriksaan ini dan terasa nyeri, maka kemungkinan apendiks
yang meradang terletak didaerah pelvis. Pemeriksaan ini merupakan kunci diagnosis
pada apendisitis pelvika.
d)
Pemeriksaan uji psoas
Dilakukan untuk mengetahui letak
apendiks yang meradang. Uji psoas dilakukan dengan rangsangan otot psoas lewat
hiperektensi sendi panggul kanan atau fleksi aktif sendi panggul kanan,
kemudian paha kanan ditahan. Bila appendiks yang meradang menempel di m. psoas
mayor, maka tindakan tersebut akan menimbulkan nyeri.
e)
Pemeriksaan uji obturator
Sedangkan pada uji obturator dilakukan gerakan fleksi
dan endorotasi sendi panggul pada posisi terlentang. Bila apendiks yang
meradang kontak dengan m.obturator internus yang merupakan dinding panggul
kecil, maka tindakan ini akan menimbulkan nyeri. Pemeriksaan ini dilakukan pada
apendisitis pelvika.
b. Pemeriksaan Penunjang
Untuk menegakkan diagnosa pada
appendicitis didasarkan atas anamnesa ditambah dengan pemeriksaan laboratorium
serta pemeriksaan penunjang lainnya.a. Gejala appendicitis ditegakkan
dengan anamnesa, ada 4 hal yang penting adalah :
a. Nyeri mula –
mula di epeigastrium (nyeri visceral) yang beberapa waktu kemudian menjalar
keperut kanan bawah.
b. Muntah oleh
karena nyeri visceral
c. Panas
(karena kuman yang menetap di dinding usus.
d. Gejala lain
adalah badan lemah dan kurang nafsu makan, penderita nampak sakit,
menghindarkan pergerakan di perut terasa nyeri.
1. Lokalisasi
Jika sudah terjadi perforasi, nyeri
akan terjadi pada seluruh perut,tetapi paling terasa nyeri pada titik Mc
Burney. Jika sudah infiltrat, insfeksi juga terjadi jika orang dapat menahan sakit,
dan kita akan merasakan seperti ada tumor di titik Mc. Burney
2. Test Rectal
Pada
pemeriksaan rectal toucher akan teraba benjolan dan penderita merasa nyeri pada
daerah prolitotomi.
1. Pemeriksaan Laboratorium
a. Leukosit
meningkat sebagai respon fisiologis untuk melindungi tubuh terhadap
mikroorganisme yang menyerang pada appendicitis akut dan perforasi akan terjadi
leukositosis yang lebih tinggi lagi. Pemeriksaan laboratorium yang biasa
dilakukan pada pasien yang diduga appendicitis akut adalah pemeriksaan darah
lengkap dan test protein reaktive (CRP). Pada pemeriksaan darah lengkap
sebagian besar pasien biasanya ditemukan jumlah leukosit di atas 10.000 dan
neutrofil diatas 75 %. Sedangkan pada pemeriksaan CRP ditemukan jumlah serum
yang mulai meningkat pada 6-12 jam setelah inflamasi jaringan.
b. Hb
(hemoglobin) nampak normal
c. Laju
endap darah (LED) meningkat pada keadaan appendicitis infiltrat
2. Pengukuran
enzim hati dan tingkatan amilase membantu mendiagnosa peradangan hati, kandung
empedu, dan pankreas.
3. Serum Beta
Human Chorionic Gonadotrophin (B-HCG) untuk memeriksa adanya kemungkinan
kehamilan.
4. Pemeriksaan
barium enema untuk menentukan lokasi sekum. Pemeriksaan Barium enema dan Colonoscopy
merupakan pemeriksaan awal untuk kemungkinan karsinoma colon.
5. Pemeriksaan
foto polos abdomen tidak menunjukkan tanda pasti Apendisitis, tetapi mempunyai
arti penting dalam membedakan Apendisitis dengan obstruksi usus halus atau batu
ureter kanan.
6.
Pemeriksaan
urine
Untuk
melihat adanya eritrosit, leukosit dan bakteri di dalam urin. pemeriksaan ini
sangat membantu dalam menyingkirkan diagnosis banding seperti infeksi saluran
kemih atau batu ginjal yang mempunyai gejala klinis yang hampir sama dengan
appendisitis.
7.
Pemeriksaan
radiologi
Pemeriksaan
radiologi yang biasa dilakukan pada pasien yang diduga appendicitis akut antara
lain adalah Ultrasonografi, CT-scan. Pada pemeriksaan ultrasonogarafi ditemukan
bagian memanjang pada tempat yang terjadi inflamasi pada appendiks. Sedang pada
pemeriksaan CT-scan ditemukan bagian yang menyilang dengan apendicalith serta
perluasan dari appendiks yang mengalami inflamasi serta adanya pelebaran dari
saekum.
8.
Pemeriksaan
USG
Bila hasil
pemeriksaan fisik meragukan, dapat dilakukan pemeriksaan USG, terutama pada
wanita, juga bila dicurigai adanya abses. Dengan USG dapat dipakai untuk
menyingkirkan diagnosis banding seperti kehamilan ektopik, adnecitis dan
sebagainya.
9.
Abdominal
X-Ray
Digunakan
untuk melihat adanya fecalith sebagai penyebab appendisitis. pemeriksaan ini
dilakukan terutama pada anak-anak.
10.
Pencegahan
Pencegahan
pada appendiksitis yaitu dengan menurunkan resiko obstuksi dan peradangan pada
lumen appendiks. Pola eliminasi klien harus dikaji,sebab obstruksi oleh fekalit
dapat terjadi karena tidak ada kuatnya diit tinggi serat.Perawatan dan
pengobatan penyakit cacing juga menimbulkan resiko. Pengenalan yang cepat
terhadap gejala dan tanda appendiksitis menurunkan resiko terjadinya
gangren,perforasi dan peritonitis.
1.
Diet tinggi
serat akan sangat membantu melancarkan aliran pergerakan makanan dalam saluran
cerna sehingga tidak tertumpuk lama dan mengeras.
2.
Minum air putih
minimal 8 gelas sehari dan tidak menunda buang air besar juga akan membantu
kelancaran pergerakan saluran cerna secara keseluruhan.
11.
Komplikasi
Komplikasi terjadi akibat keterlambatan penanganan Apendisitis. Faktor
keterlambatan dapat berasal dari penderita dan tenaga medis. Faktor penderita
meliputi pengetahuan dan biaya, sedangkan tenaga medis meliputi kesalahan
diagnosa, menunda diagnosa, terlambat merujuk ke rumah sakit, dan terlambat
melakukan penanggulangan. Kondisi ini menyebabkan peningkatan angka morbiditas
dan mortalitas. Proporsi komplikasi Apendisitis 10-32%, paling sering pada anak
kecil dan orang tua. Komplikasi 93% terjadi pada anak-anak di bawah 2 tahun dan
40-75% pada orang tua. CFR komplikasi 2-5%, 10-15% terjadi pada anak-anak dan
orang tua.43 Anak-anak memiliki dinding appendiks yang masih tipis, omentum
lebih pendek dan belum berkembang sempurna memudahkan terjadinya perforasi,
sedangkan pada orang tua terjadi gangguan pembuluh darah. Adapun jenis
komplikasi diantaranya:
1.
Abses
Abses
merupakan peradangan appendiks yang berisi pus. Teraba massa lunak di kuadran
kanan bawah atau daerah pelvis. Massa ini mula-mula berupa flegmon dan
berkembang menjadi rongga yang mengandung pus. Hal ini terjadi bila Apendisitis
gangren atau mikroperforasi ditutupi oleh omentum
2.
Perforasi
Perforasi
adalah pecahnya appendiks yang berisi pus sehingga bakteri menyebar ke rongga
perut. Perforasi jarang terjadi dalam 12 jam pertama sejak awal sakit, tetapi
meningkat tajam sesudah 24 jam. Perforasi dapat diketahui praoperatif pada 70%
kasus dengan gambaran klinis yang timbul lebih dari 36 jam sejak sakit, panas
lebih dari 38,50C, tampak toksik, nyeri tekan seluruh perut, dan leukositosis
terutama polymorphonuclear (PMN). Perforasi, baik berupa perforasi
bebas maupun mikroperforasi dapat menyebabkan peritonitis.
3.
Peritononitis
Peritonitis
adalah peradangan peritoneum, merupakan komplikasi berbahaya yang dapat terjadi
dalam bentuk akut maupun kronis. Bila infeksi tersebar luas pada permukaan
peritoneum menyebabkan timbulnya peritonitis umum. Aktivitas peristaltik
berkurang sampai timbul ileus paralitik, usus meregang, dan hilangnya cairan
elektrolit mengakibatkan dehidrasi, syok, gangguan sirkulasi, dan oligouria.
Peritonitis disertai rasa sakit perut yang semakin hebat, muntah, nyeri
abdomen, demam, dan leukositosis.
12. Asuhan Keperawatan Teori
Menurut
Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern dalam Buku Saku Diagnosis Keperawatan
NANDA NIC NOC (2011), diagnosa keperawatan pre operatif pada penderita
apendisitis akut adalah sebagai berikut:
1.
Kekurangan volume cairan tubuh
2.
Hipertermi
3.
Nyeri akut
4.
Hambatan mobilitas fisik
5.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
6.
Ansietas
B. Intervensi
Menurut
Judith M. Wilkinson dan Nancy R. Ahern dalam Buku Saku Diagnosis Keperawatan
NANDA NIC NOC (2011), intervensi yang biasa muncul pada penderita apendisitis
akut pre operatif adalah sebagai berikut:
1.
Kekurangan volume cairan
tubuh
Batasan
Karakteristik
Subjektif
Haus
Objektif
a.
Perubahan status mental
b.
Penurunan turgor kulit dan lidah
c.
Penurunan pengeluaran urine
d.
Kulit dan membran mukosa kering
e.
Hematokrit meningkat
f. Suhu
tubuh meningkat
g.
Kelemahan
h.
Peningkatan frekuensi nadi, penurunan tekanan darah, penurunan volume dan
tekanan nadi.
Faktor yang
berhubungan
a.
Kehilangan volume cairan aktif
b.
Asupan cairan yang tidak adekuat
Tujuan dan
Kriteria Hasil NOC
a.
Kekurangan volume cairan akan teratasi ditandai dengan keseimbangan cairan,
keseimbanangan elektrolit dan asam basa, hidrasi yang adekuat, dan status
nutrisi: asupan makanan dan cairan adekuat.
b.
Keseimbangan elektrolit dan asam basa akan dicapai dibuktikan dengan :
1)
Memiliki konsentrasi urine yang normal
2)
Tidak mengalami haus abnormal
3)
Memiliki asupan cairan oral dan atau intravena yang adekuat
4)
Memiliki keseimbangan asupan danpengeluaran yang seimbang dalam 24 jam.
5)
Menamilkan hidrasi yang baik (membran mukosa lembap, mampu berkeringat.
Intervensi
NIC
a.
Pantau warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan
b.
Observasi khususnya terhadap kehilangan cairan yang tinggi elektrolit, misalnya
diare
c.
Pantau hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan (misalnya kadar
hematokrit, BUN, albumin, protein total, osmolalitas serum, dan berat jenis
urine).
d.
Pantau status hidrasi misalnya kelembapan membran mukosa, keadekuatan nadi, dan
tekanan darah ortostatik.
e.
Kaji orientasi terhadap orang, tempat dan waktu
f.
Mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mengatur keseimbangan cairan
g.
Memberikan dan memantau cairan dan obat intravena
h.
Membantu dan menyediakan asupan makanan dan cairan dalam diet seimbang
i. Timbang
berat badan setiap hari dan pantau kecendrungannya
j. Tentukan
jumlah cairan yang masuk dalm 24 jam, hitung asupan yang diinginkan sepanjang
sif siang, soreh, dan malam
k.
Anjurkan melakukan higiene oral secara sering
l.
Kolaborasi pemberian terapi IV sesuai program.
2.
Hipertermi
Batasan
Karakteristik
Objektif
a.
Kulit merah
b.
Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal
c.
Frekuensi napas meningkat
d.
Kejang atau konvulsi
e.
Kulit teraba hangat
f.
Takikardi
g.
Takipneu
Faktor yang
Berhubungan
a.
Dehidrasi
b.
Penyakit atau trauma
c.
Ketidakmampuan atau penurunan kemampuan untuk berkeringat
d.
Pakaian yang tidka tepat
e.
Obat atau anastesia
f.
Terpajan lingkungan yang panas (jangka panjang)
g.
Aktivitas yang berlebihan
Tujuan dan
Kriteria Hasil NOC
a.
TTV dalam rentang normal
b.
Pasien akan menunjukkan termoregulasi
c.
Melaporkan tanda dan gejala dini hipertermia
d.
Menjelaskan tindakan untuk mencegah atau meminimalkan peningkatan suhu tubuh.
Intervensi
NIC
a.
Pantau TTV
b.
Pantau hidrasi (misalnya turgor kulit, kelembapan membran mukosa)
c.
Kaji ketepatan jenis pakaian yang digunakan, sesuai dengan suhu lingkungan
d.
Regulasi suhu NIC:
Pantau suhu
minimal setiap dua jam, sesuai kebutuhan
Pantau warna
kulit dan suhu
e.
Anjurkan asupan cairan oral, sedikitnya 2 liter per hari
f.
Ajarkan pasien/keluarga dalam mengukur suhu untuk mencegah dan mengenali secara
dini hipertermia (misalnya sengatan panas, keletihan akibat panas)
g.
Lepaskan pakaian yang berlebihan dan tutupi pasien dengan selimut saja
h.
Berikan kompres hangat untuk mengatasi demam
i.
Kolaborasi pemberian obat antipiretik.
3.
Nyeri akut
Batasan
Karakteristik
Subjektif
Mengungkapkan
secara verbal atau melaporkan (nyeri) dengan isyarat
Objektif
a.
Posisi untuk menghindari nyeri
b.
Perubahan tonus otot (dengan rentang dari lemas, tidak bertenaga sampai kaku
c.
Perubahan selera makan
d.
Perilaku ekspresif (misalnya gelisah, merintih, menangis, peka terhadap
rangsang, dan menghela napas panjang)
e.
Wajah topeng (nyeri)
f.
Perilaku menjaga atau sikap melindungi
g.
Bukti nyeri yang dapat diamati
h.
Berfokus pada diri sendiri
i.
Gangguan tidur (mata terlihat kuyu, gerakan tidak teratur, atau tidak menentu
dan menyeringai)
Tujuan dan
Kriteria Hasil NOC
a.
Memperlihatkan Pengendalian Nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai
berikut (sebutkan 1-5: tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering atau selalu
):
1)
Mengenali awitan nyeri
2)
Menggunakan tindakan pencegahan
3)
Melaporkan nyeri dapat dikendalikan
b.
Melaporkan Tingkat Nyeri, yang dibuktikan oleh indikator sebagai berikut
(sebutkan 1-5: sangat berat, berat, sedang, ringan atau tidak ada):
1)
Ekspresi nyeri pada wajah
2)
Gelisah atau ketegangan otot
3)
Durasi episode nyeri
4)
Merintih dan menangis
5)
Gelisah
SKALA NYERI
Nilai
|
Skala
Nyeri
|
0
|
Tidak
nyeri
|
1
|
Seperti gatal, tersetrum / nyut-nyut
|
2
|
Seperti
melilit atau terpukul
|
3
|
Seperti
perih
|
4
|
Seperti
keram
|
5
|
Seperti
tertekan atau tergesek
|
6
|
Seperti terbakar atau ditusuk-tusuk
|
7 – 9
|
Sangat
nyeri tetapi dapat dikontrol oleh klien dengan aktivitas yang biasa
dilakukan.
|
10
|
Sangat nyeri dan tidak dapat dikontrol oleh klien.
|
Keterangan
:
|
1 – 3
(Nyeri ringan)
4 – 6
(Nyeri sedang)
7 – 9
(Nyeri berat)
10
(Sangat nyeri)
|
Intervensi
NIC
a.
Kaji tingkat nyeri dengan menggunakan skala 0-10
b. Kaji
dampak agama, budaya, kepercayaan, dan lingkungan terhadap nyeri dan
respon pasien
c.
Ajarkan penggunaan teknik relaksasi, imajinasi tebimbing, terapi musik, terapi
bermain, distraksi, kompres hangat atau dingin sebelum, setelah, dan jika
memungkinkan , selama aktivitas yang menimbulkan nyeri, sebelum nyeri terjadi
atau meningkat, dan bersama penggunaan tindakan peredaan nyeri yang lain.
d. Lakukan
perubahan posisi, massase [punggung dan relaksasi
e.
Libatkan pasien dalam pengambilan keputusan yang menyangkutn aktivitas
keperawatan
f.
Bantu pasien untuk lebih berfokus pada aktivitas, bukan pada nyeri dan rasa
tidak nyaman dengan melakukan pengalihan melalui TV, radion, dan interaksi
dengan pengunjung
g.
Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi
4.
Hambatan mobilitas fisik
Batasan
Karakteristik
Objektif
a.
Penurunan waktu reaksi
b.
Kesulitan membolak-balik tubuh
c.
Dispnea saat beraktivitas
d.
Perubahan cara berjalan (misalnya, penurunan aktivitas dan kecepatan berjalan,
kesulitan utnuk memulai berjalan, langkah kecil, berjalan dengan menyeret kaki,
pada saat berjalan badan mengayun ke samping)
e.
Pergerakan menyentak
f.
Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik kasar
g.
Keterbatasan kemampuan untuk melakukan keterampilan motorik halus
h.
Keterbatasan rentang pergerakan sendi
i.
Tremor yang diinduksi oleh pergerakan
j.
Ketidakstabilan postur tubuh (saat melakukan rutinitas aktivitas kehidupan
sehari-hari)
k.
Melambatnya pergerakan
l.
Gerakan tidak teratur atau tidak terkoordinasi.
Faktor yang
Berhubungan
a.
Perubahan metabolisme sel
b.
Indeks massa tubuh di atas persentil ke-75 sesuai usia
c.
Gangguan kognitif
d.
Kepercayaan budaya terkait aktivitas sesuai usia
e.
Penurunan kekuatan, kendali, atau massa otot
f.
Keadaan alam perasaan depresi atau ansietas
g.
Keterlambatan perkembangan
h.
Ketidaknyamanan
i.
Intoleransi aktivitas dan penuruna kekuatan dan ketahanan
j.
Kaku sendi atau kontraktur
k.
Defesiensi pengetahuan tentang nilai aktivitas fisik
l.
Kurang dukungan lingkungan fisik atau sosial
m. Keterbatasan
ketahanan kardiovaskular
n.
Hilangnya integritas struktur tulang
o.
Medikasi
p.
Gangguan muskuloskeletal
q.
Gangguan neuromuskular
r.
Nyeri
s.
Program pembatasan pergerakan
t.
Keengganan untuk memulai pergerakan
u.
Gaya hidup yang kurang gerak atau disuse atau melemah
v.
Malnutrisi (umum atau selektif)
w.
Gangguan sensori persepsi
Tujuan dan
Kriteria Hasil NOC
Memperlihatkan
mobilitas yang dibuktikan dengan indikator:
Keseimbangan
Koordinasi
Performa
posisi tubuh
Pergerakan
sendi dan otot
Berjalan
Bergerak
dengan mudah
Aktivitas
Keperawatan
Tingkat 1
a.
Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan kesehatan di rumah dan kebutuhan
terhadap peralatan pengobatan yang tahan lama
b.
Ajarkan pasien tentang dan pantau penggunaan alat bantu mobilitas
c.
Ajarkan dan bantu pasien dalam proses berpindah (misalnya dari tempat tidur ke
kursi)
d.
Rujuk ke ahli terapi fisik untuk program latihan
e.
Berikan penguatan positif selama aktivitas
f.
Bantu pasien untuk menggunakan alas kaki antiselip yang mendukung untuk
berjalan
g.
Pengaturan posisi (NIC):
1)
Ajarkan pasien bagaimana menggunakan postur dan mekanika tubuh yang benar saat
melakukan aktivitas
2)
Pantau ketepatan pemasangan traksi
Tingkat 2
a.
Kaji kebutuhan belajar pasien
b.
Kaji kebutuhan terhadap bantuan pelayanan kesehatan dari lembaga kesehatan di
rumah dan alat kesehatan yang tahan lama
c.
Ajarkan dan dukungpasien dalam latihan ROM aktif atau pasif untuk
mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot
d.
Instruksikan dan dukung pasien untuk menggunakan trapeze atau pemberat untuk
meningkatkan serta memperthanakan kekuatan ekstremitas atas
e.
Ajarkan teknik ambulasi dan berpindah yang aman
f.
Instruksikan pasien untuk menyangga berat badannya
g.
Instruksikan pasien untuk memperhatikan kesejajaran tubuh yang benar
h.
Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi sebagai suatu sumber untuk mengembangkan
perencanaan dan mempertahankan atau meningkatkan mobilitas
i.
Berikan penguatan positif selama aktivitas
j.
Awasi seluruh upaya mobilitas dan bantu pasien, jika diperlukan
k.
Gunakan sabuk penyokong saat memberikan bantuan ambulasi atau perpindahan.
Tingkat 3dan
4
a.
Tentukan tingkat motivasi pasien untuk mempertahankan atau mengembalikan
mobilitas sendi dan otot
b.
Gunakan ahli terapi fisik dan okupasi sebagai sumber dalam perencanaan
aktivitas perawatan pasien
c.
Dukung pasien dan keluarga untuk memandang keterbatasan dengan realistis
d.
Berikan penguatan positif selama aktivitas
e.
Berikan analgesik sebelum memulai latihan fisik
f.
Susun rencana yang spesifik, seperti:
1)
Tipe alat bantu
2)
Posisi pasien
3)
Cara memindahkan dan mengubah posisi pasien
4)
Jumlah personel yang dibutuhkan untuk memobilisasi pasien
5)
Peralatan eliminasi yang diperlukan (misal, pispot, urinal, dan pispot fraktur)
6)
Jadwal aktivitas
g.
Pengaturan posisi (NIC):
1)
Pantau pemasangan alat traksi yang benar
2)
Letakkan matras atau tempat tidur terapeutik dengan benar
3)
Atur posisi dengan kesejajaran tubuh yang benar
4)
Letakkan pada posisi terapeutik
5)
Ubah posisi pasien yang imobilisasi minimal setiap dua jam berdasarkan jadwal spesifik
6)
Letakkan tombol pengubah posisi tempat tidur dan lampu pemanggil dalam
jangkauan pasien
7)
Dukung latihan ROM aktif atau pasif, jika diperlukan.
5.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Batasan
Karakteristik
Subjektif
a.
Kram abdomen
b.
Nyeri abdomen
c.
Menolak makan
d.
Persepsi ketidakmampuan untuk mencerna makanan
e.
Melaporkan perubahan sensasi rasa
f.
Merasa cepat kenyang setelah mengomsumsi makanan
Objektif
a.
Diare atau steatore
b.
Bising usus hiperaktif
c.
Kurangnya minat terhadap makanan
d.
Membran mukosa pucat
e.
Tonus otot buruk
f.
Menolak untuk makan
g.
Kelemahan otot untuk menelan atau mengunyah
Faktor yang
Berhubungan
a.
Kesulitan mengunyah atau menelan
b.
Intoleransi makanan
c.
Faktor ekonomi
d.
Kebutuhan metabolik tinggi
e.
Kurang pengetahuan dasar tentang nutrisi
f.
Hilang nafsu makan
g.
Mual dan muntah
h.
Pengabaian oleh orang tua
Tujuan dan
Kriteria Hasil NOC
a.
Selera makan: Keinginan untuk makan ketika dalam keadaan sakit atau sedang
menjalani pengobatan
b.
Memperlihatkan status gizi yang adekuat
c.
Mengungkapkan tekad untuk mematuhi diet
d.
Mempertahankan massa tubuh dan berat badan dalam batas normal
e.
Melaporkan tingkat ekergi yang adekuat.
Tujuan dan
Kriteria Hasil menurut Wilkinson (2007)
Setelah
dilakukan asuhan keperawatan diharapkan ebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
dengan kriteria hasil: asupan makanan dan cairan adekuat, zat gizi terpenuhi,
asupan cairan oral atau IV dapat terpenuhi dengan baik, serta mencapai berat
badan ideal
Intervensi
NIC
a.
Kaji faktor pencetus mual dan muntah
b.
Catat warna, jumlah, dan frekuensi muntah
c.
Tentukan motivasi pasien untuk mengubah kebiasaan makan
d.
Manajemen nutrisi NIC:
1)
Ketahui makanan kesukaan pasien
2)
Tentukan kemampuan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
3)
Pantau kandungan nutrisi dan kalori pada catatan asupan
4)
Timbang pasien pada interval yang tepat
e.
Ajarkan orang tua dan anak tentang makanan yang bergizi dan tidak mahal
f.
Berikan informasi yang tepat tentang kebutuhan nutrisi dan bagaimana
memenuhinya
g.
Berikan makanan dalam porsi sedikit tetapi sering dengan makanan yang
bervariasi
h.
Membantu pasien untuk makan
i.
Kolaborasi pemberian obat antiemetik dan atau analgesik sebelum makan atau
sesuai dengan jadwal yang dianjurkan.
6.
Ansietas
Batasana
Karakteristik
Perilaku
a.
Penurunan produktivitas
b.
Mengekspresikan kekhawatiran akibat perubahan dalam peristiwa hidup
c.
Gerakan yang tidak relevan (misalnya mengeret kaki, gerakan lengan)
d.
Gelisah
e.
Memandang sekilas
f.
Insomnia
g.
Kontak mata buruk
h.
Resah
i.
Menyelidik dan tidak waspada
Afektif
a. Gelisah
b. Kesedihan yang mendalam
c. Distres
d. Ketakutan
e. Perasaan tidak adekuat
f. Fokus pada diri sendiri
g. Peningkatan kekhawatiran
h. Iritabilitas
i. Gugup
j. Gembira berlebihan
k. Nyeri dan peningkatan ketidakberdayaan yang persisten
l. Marah
m. Menyesal
n. Perasaan takut
o. Ketidakpastian
p. Khawatir
Fisiologis
a. Wajah tegang
b. Insomnia
c. Peningkatan keringat
d. Peningkatan ketegangan
e. Terguncang
f. Gemetar atau tremor di tangan
g. Suara bergetar
Parasimpatis
a. Nyeri abdomen
b. Penurunan tekanan darah
c. Penurunan nadi
d. Diare
e. Pingsan
f. Keletihan
g. Mual
h. Gangguan tidur
i. Kesemutan pada ekstremitas
j. Sering berkemih
k. Berkemih tidak lampias
l. Urgensi berkemih
Simpatis
a. Anoreksia
b. Eksitasi kardiovaskuler
c. Diare
d. Mulut kering
e. Wajah kemerahan
f. Jantung berdebar-debar
g. Peningkatan tekanan darah
h. Peningkatan nadi
i. Peningkatan refleks
j. Peningkatan pernapasan
k. Dilatasi pupil
l. Kesulitan bernapas
m. Vasokontriksi superfisial
n. Kedutan otot
o. Kelemahan
Kognitif
a.
Kesadaran terhadap gejala-gejala fisiologis
b.
Blocking pikiran
c.
Konfusi
d.
Penurunan lapang pandang
e.
Kesulitan untuk berkonsentrasi
f.
Keterbatasan kemampuan untuk menyelesaikan masalah
g.
Keterbatasan kemampuan untuk belajar
h.
Takut terhadap konsekuensi yang tidak spesifik
i.
Fokus pada diri sendiri
j.
Mudah lupa
k.
Gangguan perhatian
l.
Tenggelam dalam dunia sendiri
m.
Melamun
n.
Kecendruangan untuk menyalahkan orang lain
Faktor yang
Berhubungan
a.
Terpajan toksin
b.
Hubungan keluarga/hereditas
c.
Transmisi dan penularan interpersonal
d.
Krisis situasi dan maturasi
e.
Stres
f.
Penyalahgunaan zat
g.
Ancaman kematian
h.
Ancaman atau perubahan pada status peran, fungsi peran, lingkungan, status
kesehatan, status ekonomi, atau pola interaksi
i.
Ancaman terhadap konsep diri
j.
Konflik yang tidak disadari tentang nilai dan tujuan hidup yang esensial
k.
Kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tujuan dan
Kriteria Hasil NOC
a.
Ansietas berkurang
b.
Kemampuan untuk fokus pada stimulus tertentu
c.
Memiliki TTV dalam batas normal
d.
Meneruskan aktivitas yang dibutuhkan meskipun mengalami kecemasan
Intervensi
NIC
a.
Kaji tingkat ansietas pasien
Skala Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) dalam penilaian
kecemasan (ansetas) terdiri dari 14 item, meliputi:
1) Perasaan Cemas firasat buruk, takut akan pikiran
sendiri, mudah tersinggung.
2) Merasa tegang, gelisah, gemetar, mudah terganggu
dan lesu.
3) Ketakutan : takut terhadap gelap, terhadap orang
asing, bila tinggal sendiri dan takut pada binatang besar.
4) Gangguan tidur sukar memulai tidur, terbangun
pada malam hari, tidur tidak pulas dan mimpi buruk.
5) Gangguan kecerdasan : penurunan daya ingat,
mudah lupa dan sulit konsentrasi.
6) Perasaan depresi : hilangnya minat, berkurangnya
kesenangan pada hoby, sedih, perasaan tidak menyenangkan sepanjang hari.
7) Gejala somatik : nyeri pada otot-otot dan kaku,
gertakan gigi, suara tidak stabil dan kedutan otot.
8) Gejala sensorik : perasaan ditusuk-tusuk,
penglihatan kabur, muka merah dan pucat serta merasa lemah.
9) Gejala kardiovaskuler : takikardi, nyeri di
dada, denyut nadi mengeras dan detak jantung hilang sekejap.
10) Gejala pernapasan : rasa tertekan di dada,
perasaan tercekik, sering menarik napas panjang dan merasa napas pendek.
11) Gejala gastrointestinal: sulit menelan,
obstipasi, berat badan menurun, mual dan muntah, nyeri lambung sebelum dan
sesudah makan, perasaan panas di perut.
12) Gejala urogenital : sering keneing, tidak dapat
menahan keneing, aminorea, ereksi lemah atau impotensi.
13) Gejala vegetatif : mulut kering, mudah
berkeringat, muka merah, bulu roma berdiri, pusing atau sakit kepala.
14) Perilaku sewaktu wawancara : gelisah, jari-jari
gemetar, mengkerutkan dahi atau kening, muka tegang, tonus otot meningkat dan
napas pendek dan cepat.
Cara Penilaian kecemasan adalah dengan memberikan nilai dengan kategori:
0 = tidak
ada gejala sama sekali
1 = Ringan /
Satu dari gejala yang ada
2 = Sedang /
separuh dari gejala yang ada
3 = berat /
lebih dari ½ gejala yang ada
4 = sangat berat
/ semua gejala ada
Penentuan
derajat kecemasan dengan cara menjumlah nilai skor dan item 1-14 dengan hasil:
1)
Skor < 14 = tidak ada kecemasan.
2)
Skor 14 - 20 = kecemasan ringan.
3)
Skor 21 – 27 = kecemasan sedang.
4)
Skor 28 – 41 = kecemasan berat.
5)
Skor 42 – 56 = panik.
b.
Gali bersama pasien tentang teknik yang berhasil dan tidak berhasil menurunkan
ansietas di masa lalu
c.
Berikan informasi tentnag gejala ansietas
d.
Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan secara verbal pikiran dan
aperasaan untuk mengeksternalisasikan ansietas
e.
Yakinakan kembali pasien melalui sentuhan, dan sikap empatik secara verbal dan
nonverbal secara bergantian
f.
Dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan iritasi serta izinkan pasien
untuk menangis
g.
Bermain dengan anak atau bawa anak ke tempat bermain anak di rumah sakit dan
libatkan anak dalam permainan
h.
Kolaborasi pemberian obat untuk menurunkan ansietas.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORI
A. Konsep
Dasar Asuhan Keperawatan
1.
Pengkajian
a) Identitas klien, Merupakan
biodata klien yang meliputi : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku
bangsa/ras, pendidikan, bahasa yang dipakai, pekerjaan, penghasilan dan alamat.
Jenis kelamin.
b) Keluhan utama
Keluhan utama nyeri bekas luka operasi.
c) Riwayat penyakit sekarang
Timbul keluhan nyeri perut, nyeri dirasakan seperti
tertusuk tusuk, nyeri dirasakan pada luka bekas operasi dengan skala (0-10) dan
nyeri timbul memberat ketika bergerak.
d) Riwayat penyakit
dahulu
Kebiasaan makan makanan rendah
serat yang dapat menimbulkan konstipasi sehingga meningkatkan tekanan
intrasekal yang menimbulkan timbulnya sumbatan fungsi appendiks dan
meningkatkan pertumbuhan kuman folar kolon sehingga menjadi appendisitis akut.
e) Pola – pola fungsi
kesehatan
1) Pola persepsi dan
tata laksana hidup sehat
Timbulnya perubahan pemeliharaan
kesehatan karena di rawat di rumah sakit.
2) Pola nutrisi
dan metabolisme
Klien yang di lakukan
anasthesi tidak boleh makan dan minum
sebelum flatus.
3) Pola eliminasi
Setelah menjalani post operasi appendiks, pasien masih
menggunakan dower chateter karena masih dalam pengaruh anastesi, dan pasien
akan dilatih untuk berkemih.
4) Pola aktivitas dan
latihan
Adanya keterbatasan aktivitas
karena kondisi klien yang lemah. Namun, setelah 6
jam pasien diharapkan pasien sudah mampu untuk bergerak miring kanan dan miring
kiri dan dilanjutkan dengan duduk kemudian berjalan.
5) Pola tidur dan
istirahat
Rasa nyeri akibat post operasi dan
perubahan situasi karena hospitalisasi dapat
mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
6) Pola kognitif perseptual
Sistem Penglihatan, Pendengaran,
Pengecap, peraba dan Penghidu tidak mengalami gangguan.
7) Pola persepsi dan
konsep diri
Klien dapat mengalami cemas
karena ketidaktahuan tentang perawatan post operasi
appendiks.
8) Pola hubungan dan
peran
Karena klien harus menjalani
perawatan di rumah sakit maka dapat
mempengaruhi hubungan dan peran klien baik
dalam keluarga tempat kerja dan masyarakat.
9) Pola reproduksi
seksual
Klien tidak mengalami masalah produksi karena bekas
operasi tidak ada hubungannya dengan alat reproduksi.
10) Pola
penanggulangan stress
Stress dapat
dialami klien karena kurang pengetahuan
tentang perawatan post operasi. Gali adanya stres pada
klien dan mekanisme koping klien terhadap
stres tersebut.
11) Pola tata
nilai dan kepercayaan
Adanya dower chateter
dan nyeri post operasi memerlukan adaptasi klien
dalam menjalankan ibadahnya .
2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa pre-tindakan
1)
Nyeri akut berhubungan dengan inflamasi dan spasme otot polos sekunder akibat
infeksi gastrointestinal.
2)
Hipertermia berhubungan dengan penyakit atau trauma.
3)
Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual dan muntah.
4)
Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.
Diagnosa post-tindakan
1)
Nyeri akut berhubungan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder akibat
operasi
2)
Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder
akibat pembedahan
3)
Defisit pengetahuan (perawatan luka post operasi) berhubungan dengan kurangnya
paparan informasi mengenai perawatan luka post operasi.
3. Rencana Tindakan
Diagnosa pre-tindakan
1. Dx 1 : Nyeri akut berhubungan dengan
inflamasi dan spasme otot polos sekunder akibat infeksi gastrointestinal.
Tujuan
: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ....x 24 jam diharapkan pasien dapat
melakukan manajemen nyeri dengan kriteria hasil :
a. Pasien tampak lebih tenang.
b. Pasien dapat melakukan aktivitas
ringan, seperti bermain dengan orang tua.
c. Pasien tidak meringis kesakitan
lagi.
3. Intervensi :
1.
Observasi skala nyeri pasien.
R/
: Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien dan membandingkan sebelum dan sesudah
dilakukan intervensi.
2.
Beri lingkungan yang nyaman.
R/
: Lingkungan berpengaruh terhadap keadaan nyeri pasien.
3.
Lakukan tehnik distraksi.
R/
: Dengan mengalihkan perhatian pasien diharapkan perhatian pasien tidak
terfokus pada nyeri sehingga pasien dapat memanajemen nyeri.
4.
Pantau perkembangan nyeri pasien.
R/
: Untuk segera mengambil tindakan rujukan apabila nyeri yang dialami pasien
sudah tidak dapat ditoleransi lagi.
2. Dx 2 : Hipertermia berhubungan dengan
penyakit atau trauma.
Tujuan
: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama .... x 24 jam diharapkan suhu tubuh
pasien dapat turun menjadi rentang normal (36,5 – 37,5o
C / aksila).
Intervensi
:
1.
Observasi TTV.
R/
: Untuk membandingkan TTV sebelum dan sesudah intervensi dilakukan.
2.
Beri lingkungan yang nyaman.
R/
: Keadaan lingkungan berpengaruh terhadap keadaan pasien.
3.
Lakukan kompres air hangat.
R/
: Untuk mengembalikan fungsi termostat dalam keadaan normal.
4.
Ukur TTV.
R/
: Untuk mengetahui perubahan suhu tubuh pasien.
3. Dx 3 : Risiko kekurangan volume cairan
berhubungan dengan mual dan muntah.
Tujuan
: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam diharapkan kebutuhan cairan
pasien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil :
a. Pasien tidak menunjukkan
tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit normal, mukosa bibir tidak kering)
b. Pasien tidak merasa haus.
c. Pasien tampak segar.
Intervensi :
1.
Kaji tanda-tanda dehidrasi pasien.
R/
: Untuk melihat apakah pasien mengalami tanda-tanda dehidrasi agar dapat
mengetahui tindakan yang harus dilakukan.
2.
Awasi cairan masuk dan cairan keluar.
R/
: Untuk menjaga keseimbangan volume cairan tubuh.
3.
Apabila pasien menunjukkan tanda-tanda dehidrasi, berikan cairan melalui
intravena.
R/
: Untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien, jangan memberi cairan per oral karena
pasien yang akan dilakukan tindakan apendiktomi harus dipuasakan.
4. Dx 4 : Ansietas berhubungan dengan krisis
situasional.
Tujuan
: Setelah dilakukan
tindakan keperawatan selama .....x 24 jam diharapkan cemas pasien berkurang,
dengan kriteria hasil :
a. Pasien tampak tenang.
b. Pasien kooperatif dengan tindakan
keperawatan dan tindakan medis yang akan dilakukan..
Intervensi :
1.
Kaji keadaan emosi pasien.
R/
: Dengan mengetahui keadaan pasien saat itu, jadi kita dapat menentukan
tindakan dan waktu yang tepat untuk melakukan tindakan keperawatan.
2.
Lakukan BHSP apabila keadaan emosi pasien saat itu memungkinkan.
R/
: Sebelum melakukan tindakan keperawatan, kita harus melaksanakan pendekatan
agar tindakan keperawatan yang dilakukan lebih mudah.
3.
Eksplorasi perasaan pasien.
R/
: Untuk menggali lebih jauh apa yang dirasakan pasien.
4.
Biarkan pasien mengungkap perasaannya.
R/
: Agar emosi pasien dapat tersalurkan sehingga pasien merasa lebih tenang.
5.
Berikan feed back positif dan berikan support kepada pasien.
R/
: Agar pasien merasa nyaman dan merasa ada yang mendukungnya.
Diagnosa post-tindakan
1. Dx 1 : Nyeri akut berhubungan trauma jaringan
dan refleks spasme otot sekunder akibat operasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama ..x 24 jam,
diharapkan nyeri yang dialami pasien berkurang dengan kriteria hasil :
a. Pasien tidak meringis.
b. Pasien tampak tenang.
c. Pasien dapat melakukan aktivitas
ringan, seperti bermain dengan orang tua.
Intervensi :
1.
Observasi skala nyeri pasien.
R/
: Untuk mengetahui tingkat nyeri pasien dan membandingkan sebelum dan sesudah
dilakukan intervensi.
2.
Beri lingkungan yang nyaman.
R/
: Lingkungan berpengaruh terhadap keadaan nyeri pasien.
3.
Lakukan tehnik distraksi.
R/
: Dengan mengalihkan perhatian pasien diharapkan perhatian pasien tidak
terfokus pada nyeri sehingga pasien dapat memanajemen nyeri.
4.
Beri analgetik
R/
: Untuk mengurangi nyeri pasien.
2. Dx 2 : Resiko tinggi infeksi berhubungan
dengan tempat masuknya organisme sekunder akibat pembedahan
Tujuan
: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ....x 24 jam diharapkan luka pasien tidak
menunjukkan tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, lubor, tumor, perubahan fungsi)
Intervensi
:
1.
Kaji tanda-tanda infeksi pada pasien.
R/
: Untuk melihat apakah ada tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, lubor, tumor, dan
perubahan fungsi), pus, jaringan nekrotik.
2.
Lakukan perawatan luka.
R/
: Ganti balutan agar luka post-op tetap kering.
3.
Jaga luka agar tetap steril.
R/
: Untuk menghindari perkembangan bakteri pada luka.
4.
Informasikan kepada keluagra pasien untuk tidak membuka balutan luka, menjaga
luka agar tetap kering.
R/
: Luka yang lembab menyebabkan infeksi karena bakteri dapat berkembang.
5.
Berikan salep betadine di atas luka pasien.
R/ : Untuk mencegah infeksi pada
luka.
3. Dx 3 : defisit pengetahuan (perawatan luka
post operasi) berhubungan dengan kurangnya paparan informasi mengenai perawatan
luka post operasi.
Tujuan
: Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama ...x 24 jam diharapkan tingkat
pengetahuan orang tua pasien tentang perawatan luka dapat meningkat.
Intervensi :
1.
Kaji tingkat pengetahuan orang tua pasien.
R/
menentukan cara penyampaian informasi kepada keluarga pasien.
2.
Lakukan BHSP.
R/
mempermudah perawat dalam melakukan tindakan keperawatan.
3.
Berikan penjelasan mengenai perawatan luka kepada orang tua pasien.
R/
memberikan penjelasan kepada orang tua pasien.
4.
Berikan kesempatan kepada orang tua pasien untuk mengungkapkan perasaannya.
R/
memberikan kesempatan kepada orang tua pasien untuk mengungkap kesulitan yang
dihadapi.
5.
Evaluasi tingkat pengetahuan pasien.
R/
untuk mengetahui keberhasilan intervensi.
4. Implementasi
Implementasi dilakukan
berdasarkan perencanaan yang telah dibuat.
a. PRE OPERASI
(1) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada
appendik.
(a) Tujuan : Nyeri hilang atau terkontrol
(b) Kriteria hasil : Pasien rileks, mampu tidur atau
istirahat dengan baik, nadi 80 – 84 x/menit, pasien tidak mengeluh nyeri dan
tidak meringis, skala nyeri ringan ( 1 – 3) dari 10 skala nyeri.
(c) Tindakan keperawatan
·
Observasi nyeri
dengan tehnik PQRST ( Provoking Quality Region Saverity dan Timing )
Rasional : Perubahan karakteristik nyeri menunjukkan
terjadinya perubahan pada appendik misal terjadi abses atau peritonitis, dengan
demikian dapat segera dilakukan evaluasi medik dan intervensi yang tepat.
·
Pertahankan tirah
baring dengan posisi semi fowler dengan lutut fleksi
Rasional : Posisi semi fowler dengan lutut fleksi
mengurang kontraksi otot – otot abdominal sehingga mengurangi tekanan pada
abdomen yang nantinya dapat mengurangi sensasi nyeri.
·
Ajarkan dan anjurkan
penggunaan tehnik distraksi dan relaksasi
Rasional : Tehnik distraksi mampu mengurangi fokus
terhadap nyeri dan mengalihkan fokus terhadap hal – hal lain diluar sensasi
nyeri sehingga mengurangi sensasi nyeri yang dirasakan, tehnik relaksasi
membantu mengurangi kontraksi otot –otot sehingga menjadi lebih rileks dan akan
mengurangi sensasi nyeri yang dirasakan.
·
Delegatif dalam
memberikan analgetik sesuai indikasi
Rasional : agen analgetik mampu mengurangi
sensitifitas dari saraf – saraf penerima rangsangan dan beberapa analgetika
juga dapat mengurangi efektifitas pengantaran rangsang dari neurotransmiter,
sehingga rangsangan nyeri yang diterima oleh corteks cerebri sebagai penerima
rangsangan lebih lemah dan sensasi nyeri yang dirasakan juga lebih ringan.
(2) Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang penyakit, penyebab dan perawatan.
(a) Tujuan : Ansietas terkontrol
(b) Kriteria hasil : Pasien menggunakan mekanisme
koping yang efektif dalam mengatasi ansietasnya, pasien tidak cemas dan
menunjukkan perasaan rileks.
(c) Tindakan keperawatan
·
Observasi tingkat
ansietas, catat respon verbal dan non verbal
Rasional : Tingkat ansietas akan mempengaruhi
penerimaan dan kooperatifitas terhadap tindakan yang diberikan sehingga perlu
diketahui karena pada tingkat ansietas tertentu berbeda tehnik penanganannya.
·
Berikan informasi
tentang penyakit pasien
Rasional : Mengetahui apa yang terjadi dan
penyelesaiannya akan membantu mengurangi ansietas.
·
Berikan kesempatan
bertanya pada pasien
Rasional : Pertanyaan – pertanyaan dari pasien dapat
menjadi tolak ukur tingkat pemahaman pasien terhadap penjelasan yang telah
diberikan.
·
Libatkan keluarga
dalam perawatan pasien
Rasional : Orang terdekat lebih dipercaya pasien dan
dapat memotivasi pasien untuk dapat mengikuti perawatan dan akan meningkatkan
kooperatifitas pasien.
(3) Risiko sepsis berhubungan dengan sisi masuknya
microorganisme skunder.
(a) Tujuan : Komplikasi sepsis tidak terjadi.
(b) Kriteria hasil : Tanda – tanda infeksi tidak ada,
tidak ada manifestasi peritonitis.
(c) Tindakan keperawatan
·
Observasi tanda –
tanda vital tiap 6 jam
Rasional : Tanda tanda vital terutama peningkatan suhu
dapat menjadi indikator terjadinya perforasi atau infeksi yang lebih luas.
·
Informasikan kepada
dokter segera dan siapkan pembedahan sesuai program bila manifestasi perforasi
terjadi
Rasional : Pembedahan segera diperlukan untuk appendik
ruptur, isi usus keluar ke dalam rongga peritoneal bila appendik ruptur dapat
mencetuskan peritonitis.
·
Pertahankan puasa,
delegatif pemberian therapi cairan parenteral sesuai dengan program pra
pembedahan
Rasional : Penghentian masukan makanan dan cairan per
oral sebelum pembedahan mengurangi risiko muntah dan aspirasi bila telah
dilakukan anastesi.
b. INTRA OPERASI
(1) Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan
efek anestesi (vasokontriksi).
(a) Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung
(b) Kriteria hasil : Tekanan darah dalam batas normal,
tidak terjadi hipotensi.
(c) Rencana tindakan :
·
Pantau atau catat
kecenderungan frekuensi jantung dan tekanan darah khususnya terjadinya
hipotensi.
Rasional : Hipotensi dapat terjadi akibat kekurangan
cairan dan vasokontriksi pembuluh darah.
·
Catat suhu kulit atau
warna dan kualitas atau kesamaan nadi perifer.
Rasional : kulit hangat, merah muda dan nadi kuat
indikator curah jantung adekuat.
·
Berikan oksigen
tambahan sesuai indikasi.
Rasional : Meningkatkan oksigenisasi maksimal,
menurunkan kerja jantung.
·
Kolaborasi dalam
pemberian cairan elektrolit dan obat sesuai indikasi.
Rasional : kebutuhan pasien terpenuhi tergantung tipe
pembedahan.
(2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
efek anestesi (relaksasi otot – otot diafragma).
(a) Tujuan : Pola nafas efektif
(b) Kriteria hasil : pola nafas normal (18 – 20
x/menit)/efektif, tidak terjadi sianosis atau tanda – tanda hipoksia
(c) Rencana tindakan :
·
Pertahankan jalan
udara pasien
Rasional : Mencegah obstruksi jalan nafas
·
Catat frekuensi dan
kedalaman pernafasan pasien
Rasional : Memastikan efektifitas pernafasan sehingga
upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan.
·
Pantau TTV secara
terus menerus
Rasional : Meningkatnya pernafasan, takikardi,
bradhikardi, menunjukkan kemungkinan hipoksia
·
Posisikan pasien pada
posisi yang sesuai dengan jenis pembedahan dan anestesi
Rasional : Posisi yang benar akan mendorong ventilasi
pada lobus paru dan menurunkan tekanan pada diafragma
·
Observasi fungsi otot
terutama otot pernafasan
Rasional : Obat anestesi dalam proses pembedahan dapat
menimbulkan relaksasi pada otot pernafasan.
(3) Risiko injuri berhubungan dengan proses pembedahan
(penggunaan alat cauther).
(a) Tujuan : Cedera tidak terjadi
(b) Kriteria hasil : Meningkatkan keamanan dan
menggunakan sumber – sumber secara tepat
(c) Rencana tindakan :
·
Antisipasi gerakan
jalur dan mendukung posisi pasien yang tepat
Rasional : Mencegah tegangan atau dislokalisasi
·
Pastikan keamanan
elektrikal dan alat – alat yang dipergunakan selama prosedur operasi
Rasional : pemeriksaan alat – alat elektrik secara
periodik penting dilakukan untuk keamanan pasien dan tindakan operasi
·
Lindungi sekitar
kulit dan anatomi yang sesuai menggunakan handuk basah, spon dan penghentian
pendarahan
Rasional : mencegah kerusakan integritas kulit dan
beri batasan perlukaan anatomi pada area operasi
·
Berikan petunjuk yang
sederhana dan singkat pada pasien yang sadar
Rasional : membantu pasien dalam memahami prosedur
yang dilakukan sehingga mengurangi resiko cedera.
c. POST OPERASI
(1) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
akibat efek anastesi post appendektomy.
(a) Tujuan : Pasien dapat beraktifitas secara mandiri
(b) Kriteria hasil : Pasien dapat beraktifitas dan
memenuhi ADL secara mandiri, menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dengan
toleransi aktifitas.
c) Tindakan keperawatan
Observasi tingkat kemampuan pasien dalam
beraktifitas
Rasional : Mengetahui tingkat kemampuan pasien dalam beraktifitas
menjadi suatu pertimbangan dalam membantu memenuhi kebutuhan pasien.
Anjurkan pasien melakukan aktifitas secara mandiri
Rasional : meningkatkan kemampuan pasien dalam
beraktifitas secara mandiri sampai tingkat normal dan menumbuhkan rasa semangat
untuk beraktifitas.
Dekatkan alat – alat dan keperluan pasien sehingga
mudah dicapai
Rasional : penempatan alat – alat yang mudah dijangkau
membantu melatih pasien untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan
mengurangi resiko cedera.
Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhannya seminimal
mungkin
Rasional : dengan bantuan yang minimal pasien akan
berusaha untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan melatih pasien untuk
bergerak.
(2) Nyeri akut berhubungan dengan post operasi
appendectomy
(a) Tujuan : Nyeri berkurang
(b) Kriteria hasil : Melaporkan nyeri terkontrol ,
tampak rileks dan mampu istirahat dengan tepat
(c) Tindakan keperawatan
Dorong pasien untuk melaporkan nyeri
Rasional : Mencoba untuk mentoleransi nyeri dari pada
memint
Catat petunjuk non-verbal mislanya gelisah, menolak
untuk bergerak , berhati – hati dengan abdomen.
Rasional : Bahasa tubuh / non-verbal dapat secara
psikologis dan fisiologik dapat digunakan sebagi petunjuk verbal untuk
mengidentifikasi nyeri.
Kaji skala nyeri,
catat lokasi, karakteristik ( sakal 0-10 ) selidiki dan laporkan perubahan
nyeri yang tepat
Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat
,kemajuan penyembuhan.
(3) Risiko infeksi berhubungan dengan pengetahuan yang
tidak cukup untuk menghindari pemajanan pathogen.
(a) Tujuan : Tidak ada tanda dan gejala infeksi
(b) Kriteria hasil : Pasien bebas dari tanda dan
gejaala infeksi, menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
(c) Tindakan keperawatan :
Instruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat
berkunjung dan setelah berkunjung meninggalkan pasien.
Rasional : Dengan mencuci tangan dapat meminimalisasi
penyebaran sekunder kuman infeksi.
Berikan perawatan pada kulit daerah post operasi
Rasional : Dengan dilakukannya perawatan luka prinsip
steril dapat mencegah terjadinya risiko atau pajanan dari bakteri pathogen.
Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
Rasional :
Hangat, kemerahan adalah tanda dini gejala infeksi. Maka pasien dan
keluarga haruslah berhati – hati dalam melakukan perawatan luka di rumah agar
tidak terjadi risiko infeksi pada luka post operasi.
bertahap.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a) Preoperasi
(1) Nyeri akut berhubungan dengan reaksi
peradangan pada appendik.
(2) Ansietas
berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakit, penyebab dan perawatan.
(3) Resiko komplikasi sepsis berhubungan dengan sisi
masuknya micro organisme skunder
b) Intra operasi
(1) Resiko penurunan curah jantung berhubungan dengan
efek anestesi (vasodilatasi)
(2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
efek anestesi (melemahkan otot – otot diafragma)
(3) Resiko injuri berhubungan dengan proses pembedahan
(penggunaan alat cauther)
c) Post operasi
(1) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
akibat efek anastesi post appendektomy.
(2) Nyeri akut berhubungan dengan post operasi
appendectomy
(3) Risiko infeksi berhubungan dengan pengetahuan yang
tidak cukup untuk menghindari pemajanan pathogen.
C. RENCANA KEPERAWATAN
a. PRE OPERASI
(1) Nyeri akut berhubungan dengan peradangan pada
appendik.
(a) Tujuan : Nyeri hilang atau terkontrol
(b) Kriteria hasil : Pasien rileks, mampu tidur atau istirahat
dengan baik, nadi 80 – 84 x/menit, pasien tidak mengeluh nyeri dan tidak
meringis, skala nyeri ringan ( 1 – 3) dari 10 skala nyeri.
(c) Tindakan keperawatan
Observasi nyeri dengan tehnik PQRST ( Provoking
Quality Region Saverity dan Timing )
Rasional : Perubahan karakteristik nyeri menunjukkan
terjadinya perubahan pada appendik misal terjadi abses atau peritonitis, dengan
demikian dapat segera dilakukan evaluasi medik dan intervensi yang tepat.
Pertahankan tirah baring dengan posisi semi fowler
dengan lutut fleksi
Rasional : Posisi semi fowler dengan lutut fleksi
mengurang kontraksi otot – otot abdominal sehingga mengurangi tekanan pada
abdomen yang nantinya dapat mengurangi sensasi nyeri.
Ajarkan dan anjurkan penggunaan tehnik distraksi dan
relaksasi
Rasional : Tehnik distraksi mampu mengurangi fokus
terhadap nyeri dan mengalihkan fokus terhadap hal – hal lain diluar sensasi
nyeri sehingga mengurangi sensasi nyeri yang dirasakan, tehnik relaksasi
membantu mengurangi kontraksi otot –otot sehingga menjadi lebih rileks dan akan
mengurangi sensasi nyeri yang dirasakan.
Delegatif dalam memberikan analgetik sesuai indikasi
Rasional : agen analgetik mampu mengurangi
sensitifitas dari saraf – saraf penerima rangsangan dan beberapa analgetika
juga dapat mengurangi efektifitas pengantaran rangsang dari neurotransmiter,
sehingga rangsangan nyeri yang diterima oleh corteks cerebri sebagai penerima
rangsangan lebih lemah dan sensasi nyeri yang dirasakan juga lebih ringan.
(2) Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan
tentang penyakit, penyebab dan perawatan.
(a) Tujuan : Ansietas terkontrol
(b) Kriteria hasil : Pasien menggunakan mekanisme
koping yang efektif dalam mengatasi ansietasnya, pasien tidak cemas dan
menunjukkan perasaan rileks.
(c) Tindakan keperawatan
Observasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan
non verbal
Rasional : Tingkat ansietas akan mempengaruhi
penerimaan dan kooperatifitas terhadap tindakan yang diberikan sehingga perlu
diketahui karena pada tingkat ansietas tertentu berbeda tehnik penanganannya.
Berikan informasi tentang penyakit pasien
Rasional : Mengetahui apa yang terjadi dan
penyelesaiannya akan membantu mengurangi ansietas.
Berikan
kesempatan bertanya pada pasien
Rasional : Pertanyaan – pertanyaan dari pasien dapat
menjadi tolak ukur tingkat pemahaman pasien terhadap penjelasan yang telah
diberikan.
Libatkan keluarga dalam perawatan pasien
Rasional : Orang terdekat lebih dipercaya pasien dan
dapat memotivasi pasien untuk dapat mengikuti perawatan dan akan meningkatkan
kooperatifitas pasien.
(3) Risiko sepsis berhubungan dengan sisi masuknya
microorganisme skunder.
(a) Tujuan : Komplikasi sepsis tidak terjadi.
(b) Kriteria hasil : Tanda – tanda infeksi tidak ada,
tidak ada manifestasi peritonitis.
(c) Tindakan keperawatan
Observasi tanda – tanda vital tiap 6 jam
Rasional : Tanda tanda vital terutama peningkatan suhu
dapat menjadi indikator terjadinya perforasi atau infeksi yang lebih luas.
Informasikan kepada dokter segera dan siapkan
pembedahan sesuai program bila manifestasi perforasi terjadi
Rasional : Pembedahan segera diperlukan untuk appendik
ruptur, isi usus keluar ke dalam rongga peritoneal bila appendik ruptur dapat
mencetuskan peritonitis.
Pertahankan puasa, delegatif pemberian therapi cairan
parenteral sesuai dengan program pra pembedahan
Rasional : Penghentian masukan makanan dan cairan per
oral sebelum pembedahan mengurangi risiko muntah dan aspirasi bila telah
dilakukan anastesi.
b. INTRA OPERASI
(1) Risiko penurunan curah jantung berhubungan dengan
efek anestesi (vasokontriksi).
(a) Tujuan : Tidak terjadi penurunan curah jantung
(b) Kriteria hasil : Tekanan darah dalam batas normal,
tidak terjadi hipotensi.
(c) Rencana tindakan :
Pantau atau catat kecenderungan frekuensi jantung dan
tekanan darah khususnya terjadinya hipotensi.
Rasional : Hipotensi dapat terjadi akibat kekurangan
cairan dan vasokontriksi pembuluh darah.
Catat suhu kulit atau warna dan kualitas atau
kesamaan nadi perifer.
Rasional : kulit hangat, merah muda dan nadi kuat
indikator curah jantung adekuat.
Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
Rasional : Meningkatkan oksigenisasi maksimal,
menurunkan kerja jantung.
Kolaborasi dalam pemberian cairan elektrolit dan
obat sesuai indikasi.
Rasional : kebutuhan pasien terpenuhi tergantung tipe
pembedahan.
(2) Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan
efek anestesi (relaksasi otot – otot diafragma).
(a) Tujuan : Pola nafas efektif
(b) Kriteria hasil : pola nafas normal (18 – 20
x/menit)/efektif, tidak terjadi sianosis atau tanda – tanda hipoksia
(c) Rencana tindakan :
Pertahankan jalan udara pasien
Rasional : Mencegah obstruksi jalan nafas
Catat frekuensi dan kedalaman pernafasan pasien
Rasional : Memastikan efektifitas pernafasan sehingga
upaya memperbaikinya dapat segera dilakukan.
Pantau TTV secara terus menerus
Rasional : Meningkatnya pernafasan, takikardi,
bradhikardi, menunjukkan kemungkinan hipoksia
Posisikan pasien pada posisi yang sesuai dengan
jenis pembedahan dan anestesi
Rasional : Posisi yang benar akan mendorong ventilasi
pada lobus paru dan menurunkan tekanan pada diafragma
Observasi fungsi otot terutama otot pernafasan
Rasional : Obat anestesi dalam proses pembedahan dapat
menimbulkan relaksasi pada otot pernafasan.
(3) Risiko injuri berhubungan dengan proses pembedahan
(penggunaan alat cauther).
(a) Tujuan : Cedera tidak terjadi
(b) Kriteria hasil : Meningkatkan keamanan dan
menggunakan sumber – sumber secara tepat
(c) Rencana tindakan :
Antisipasi gerakan jalur dan mendukung posisi pasien
yang tepat
Rasional : Mencegah tegangan atau dislokalisasi
Pastikan keamanan elektrikal dan alat – alat yang
dipergunakan selama prosedur operasi
Rasional : pemeriksaan alat – alat elektrik secara
periodik penting dilakukan untuk keamanan pasien dan tindakan operasi
Lindungi sekitar kulit dan anatomi yang sesuai
menggunakan handuk basah, spon dan penghentian pendarahan
Rasional : mencegah kerusakan integritas kulit dan
beri batasan perlukaan anatomi pada area operasi
Berikan petunjuk yang sederhana dan singkat pada
pasien yang sadar
Rasional : membantu pasien dalam memahami prosedur
yang dilakukan sehingga mengurangi resiko cedera
c. POST OPERASI
(1) Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan
akibat efek anastesi post appendektomy.
(a) Tujuan : Pasien dapat beraktifitas secara mandiri
(b) Kriteria hasil : Pasien dapat beraktifitas dan
memenuhi ADL secara mandiri, menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dengan
toleransi aktifitas.
(c) Tindakan keperawatan
·
Observasi tingkat
kemampuan pasien dalam beraktifitas
Rasional : Mengetahui tingkat kemampuan pasien dalam
beraktifitas menjadi suatu pertimbangan dalam membantu memenuhi kebutuhan
pasien.
·
Anjurkan pasien
melakukan aktifitas secara mandiri
Rasional : meningkatkan kemampuan pasien dalam
beraktifitas secara mandiri sampai tingkat normal dan menumbuhkan rasa semangat
untuk beraktifitas.
·
Dekatkan alat – alat
dan keperluan pasien sehingga mudah dicapai
Rasional : penempatan alat – alat yang mudah dijangkau
membantu melatih pasien untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan
mengurangi resiko cedera.
·
Bantu pasien dalam
memenuhi kebutuhannya seminimal mungkin
Rasional : dengan bantuan yang minimal pasien akan
berusaha untuk memenuhi kebutuhannya secara mandiri dan melatih pasien untuk
bergerak.
(2) Nyeri akut berhubungan dengan post operasi
appendectomy
(a) Tujuan : Nyeri berkurang
(b) Kriteria hasil : Melaporkan nyeri terkontrol ,
tampak rileks dan mampu istirahat dengan tepat
(c) Tindakan keperawatan
·
Dorong pasien untuk
melaporkan nyeri
Rasional : Mencoba untuk mentoleransi nyeri dari pada
memint
·
Catat petunjuk
non-verbal mislanya gelisah, menolak untuk bergerak , berhati – hati dengan
abdomen.
Rasional : Bahasa tubuh / non-verbal dapat secara
psikologis dan fisiologik dapat digunakan sebagi petunjuk verbal untuk
mengidentifikasi nyeri.
·
Kaji skala nyeri,
catat lokasi, karakteristik ( sakal 0-10 ) selidiki dan laporkan perubahan
nyeri yang tepat
Rasional : Berguna dalam pengawasan keefektifan obat
,kemajuan penyembuhan.
(3) Risiko infeksi berhubungan dengan pengetahuan yang
tidak cukup untuk menghindari pemajanan pathogen.
(a) Tujuan : Tidak ada tanda dan gejala infeksi
(b) Kriteria hasil : Pasien bebas dari tanda dan
gejaala infeksi, menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
(c) Tindakan keperawatan :
·
Instruksikan pada
pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan setelah berkunjung
meninggalkan pasien.
Rasional : Dengan mencuci tangan dapat meminimalisasi
penyebaran sekunder kuman infeksi.
·
Berikan perawatan
pada kulit daerah post operasi
Rasional : Dengan dilakukannya perawatan luka prinsip
steril dapat mencegah terjadinya risiko atau pajanan dari bakteri pathogen.
·
Ajarkan pasien dan
keluarga tanda dan gejala infeksi
Rasional
: Hangat, kemerahan adalah tanda dini
gejala infeksi. Maka pasien dan keluarga haruslah berhati – hati dalam
melakukan perawatan luka di rumah agar tidak terjadi risiko infeksi pada luka
post operasi.
5.
Evaluasi
Diagnosa pre-tindakan
1. Pasien dapat
melakukan manajemen nyeri
2. Suhu tubuh
pasien dapat turun menjadi rentang normal (36,5 – 37,5o
C / aksila).
3. Kebutuhan
cairan pasien dapat terpenuhi
4. Cemas pasien
berkurang
Diagnosa post-tindakan
1. Nyeri yang
dialami pasien berkurang
2. Luka pasien
tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, lubor, tumor, perubahan
fungsi)
3. Tingkat
pengetahuan orang tua pasien tentang perawatan luka dapat meningkat.
Daftar Pustaka
Mansjoer,
Arif. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : EGC.
Mansjoer A,. dkk. 2012. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media
Aesculapius
Sjamsuhidajat,
R dan Wim de Jong. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.
Smeltzer,
Suzanne C dan Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Medikal Bedah Edisi 8 Volume 2,
Alih Bahasa Kuncara, H.Y, dkk. Jakarta: EGC.
Wilkinson,
Judith M dan Ahern, Nancy R. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil Noc. Jakarta: EGC
Brunner & Suddarth.2002.Keperawatan Medikal Bedah Volume 1. Jakarta.
Penerbit Buku Kedokteran
Brunner & Suddarth. 2008. Keperawatan Medikal Bedah Vol. 2.
Jakarta: EGC
Doenges, E. Marilynn. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3.
Jakarta: EGC
Guyton & Hall. 2003. Fisiologi Tubuh Manusia. Jakarta : EGC
Price, A. Sylvia. 2006. Patofisiologi Edisi 4. Jakarta: EGC
Doenges,
Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan
Keperawatan : Pedomanan Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.
Edisi 3.EGC:Jakarta
Huda Nurarif
Amin, Kusuma Hardhi. 2013. Aplikasi Keperawatan
Berdasarkan Diagnosa Medis & Panduan Penyusunan Asuhan Keperawatan
Profesional. Edisi Revisi Jilid 2. MediaAction: Yogyakarta
Andra Safery Wijaya, yessie Marisa Putri, 2013. Buku Ajar
Ilmu Bedah. Jakarta: EGC.


Komentar
Posting Komentar